Santo Fransiskus Xaverius

Santo Fransiskus Xaverius adalah seorang pionir misionaris Katolik dan salah satu seorang pendiri Serikat Yesus. Ia lahir pada 7 April 1506 di Javier, Spanyol. Nama komunitas Serikat Xaverian diambil nama dirinya. Gereja Katolik menganggap dia telah mengkristenkan lebih banyak orang dibanding siapapun semenjak Santo Paulus.

Santo Fransiskus Xaverius adalah santo pelindung Australia, Kalimantan, Tiongkok, Hindia Timur, Goa, Jepang, dan Selandia Baru. Perayaan peringatannya ditetapkan tiap tanggal 3 Desember. Banyak gereja di seluruh dunia dinamakan menurut namanya. Salah satunya adalah Gereja Katedral Santo Fransiskus Xaverius, Keuskupan Amboina, Ambon.

Xaverius terlahir bernama “Francisco de Jaso y Azpilicueta” di Kastel Xavier (dalam bahasa Spanyol modern Javierbahasa Basque Xabierbahasa Katalan Xavier) dekat Sangüesa dan Pamplona, di NavarroSpanyol. Lahir sebagai putera bangsawan Basque di Navarro. Pada tahun 1512Kastilla menginvasi Navarro. Banyak benteng yang dihancurkan, termasuk kastil keluarga, dan tanah-tanah disita. Ayah Fransiskus meninggal dunia pada tahun 1515.

Pada usia 19 tahun, Fransiskus Xaverius masuk Universitas Paris, di mana ia lulus dengan licence ès arts pada tahun 1530. Dia kemudian melanjutkan studi dalam bidang teologi di kota itu, dan berkenalan dengan Ignatius Loyola. Bersama dengan Ignatius, Pierre Favre dan empat orang lainnya, Xaverius mengikat janji di Montmartre dan membentuk Serikat Yesus pada 15 Agustus 1534, dengan mengucapkan kaul kemiskinan dan kesucian.

Diperingati Setiap tanggal 3 Desember. Misionaris besar ini dilahirkan di Kastil Xaverius, Spanyol pada tahun 1506. Ia belajar di Universitas Paris ketika umurnya delapanbelas tahun. Di sanalah ia bertemu dengan St. Ignatius Loyola, yang pada waktu itu akan membentuk Serikat Yesus.

St. Ignatius berusaha mengajak Fransiskus untuk bergabung. Pada mulanya, pemuda yang suka bersenang-senang ini tidak pernah memikirkannya. Kemudian, St. Ignatius mengulangi kata-kata Yesus dalam Kitab Suci kepadanya: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” Akhirnya, Fransiskus memahami dengan jelas bahwa panggilan hidupnya adalah bersama dengan para Yesuit.

Ketika Fransiskus berusia 34 tahun, St. Ignatius mengutusnya sebagai misionaris ke Hindia Belanda. Raja Portugal hendak memberinya hadiah-hadiah dan juga seorang pelayan untuk menyertainya. Tetapi, Fransiskus dengan halus menolak pemberian raja dengan mengatakan: “Cara terbaik bagi seseorang untuk mendapatkan martabat sejati adalah dengan mencuci baju serta memasak makanannya sendiri.”

Fransiskus bertolak dari Lizabon pada April 1541 dan tiba di Goa tanggal 6 Mei 1542. Ia mendapatkan di sana orang-orang Kristiani yang tidak terurus, akibat kurangnya tenaga rohaniwan. Lagi pula mereka hidup melarat. Melihat itu Fransiskus membantu mereka untuk meretas belenggu kemiskinan jasmani, membebaskan diri dari penyakit lahir batin dan mengajar tentang Allah dan keselamatan-Nya.  Ia mengajar anak-anak agar menjadi pandai, dan orang-orang tua agar menjadi lebih bijaksana. Didirikannya rumah sakit dan sekolah pula.

Dari Goa ia berlayar ke Sailan, yang dihuni suku Parava. Pada tahun 1543 Frasiskus kembali ke Goa untuk mengucapkan kaul terakhir dalam Serikat Yesus.Tahun 1545 Fransiskus tiba di Malaka. Ia tinggal selama lima bulan di sana. Seperti di tengah suku Tamil sebelumnya, di situ pun ia mulai mengajar, merawat orang sakit, mendengarkan pengakuan dan merayakan ekaristi.

Pada bulan Januari 1546, ia berlayar ke Ambon, Ternate, Morotai di Indonesia Bagian Timur. Ia mengunjungi perkampungan nelayan yang kumuh untuk mewartakan kabar suka cita. Setelah itu ia kembali ke Malaka, dan pada bulan Januari 1548 ia tiba di Goa.

Salah satu tempat yang sulit ia datangi adalah Jepang. Namun pada tanggal 27 Juli1549 ia akhirnya mencapai Jepang dan baru tanggal 15 Agustus ia menginjakkan kakinya Kagoshima di Pulau Kyūshū. Pada bulan November 1551 ia kembali ke Malaka dan tiba di Goa bulan Januari 1552.Tanggal 17 April 1552 Fransiskus meninggalkan Goa menuju Tiongkok bersama Diégo Pereira dengan menumpang kapal Santa Cruz. Awal September 1552, mencapai pulau Shangchuan di Tiongkok, 14 km jauhnya dari pesisir Selatan daratan Tiongkok. 

Pada tanggal 21 November, ia pingsan seusai merayakan Misa dan kemudian sakit demam. Meskipun semangatnya tetap berkobar, sakitnya melemahkan dirinya. Kini ia hanya mampu berbaring, sambil berdoa sepanjang siang dan malam, dengan ditemani pembantunya yang setia, Antonio, seorang Cina yang telah memeluk iman Katolik.  Pada tengah malam, tanggal 2 Desember 1552 Fransiskus Xaverius wafat. Fransiskus wafat pada usia 46 tahun, tanpa pernah menginjakkan kakinya di daratan utama Tiongkok.

Kemudian ia menjadikan mereka misionaris-misionaris kecil. Ia mengajak mereka untuk menyebarluaskan iman yang telah mereka peroleh. Tidak ada yang tidak dilakukan St. Fransiskus untuk membantu sesama. Suatu ketika, ia berhadapan dengan segerombolan perompak yang garang, ia sendirian dan tanpa senjata kecuali salibnya.

Gerombolan perompak itu mundur kembali dan tidak jadi menyerang penduduk Kristennya. St. Fransiskus juga membawa kembali orang-orang Kristen yang hidup tidak baik untuk bertobat. Satu-satunya “alat”-nya adalah kelemahlembutan, keramahan serta doa-doanya.

Sepanjang perjalanan dan kerja kerasnya yang melelahkan, St. Fransiskus senantiasa dipenuhi oleh sukacita yang datang dari Tuhan. Ia mendambakan untuk dapat pergi ke Cina, ke daerah di mana tak seorang asing pun diijinkan masuk.

Komentar